Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Juni 2014

Pertunjukan Laesan dan Gatoloco di taman KB



Pertunjukan Laesan dan Gatoloco di taman KB
SEMARANG - Pertunjukan Kesenian Rakyat Jawa Tengah (PKRJT) kembali hadir di Taman KB pada edisi ke 9, Sabtu (7/6). Pada malam itu ada dua kesenian tradisional yang membuat penonton menjadi ramai. Pertunjukkan yang pertama, kesenian  dari temanggung yaitu  penari gatoloco, Budoyo Bongso. Kemudian setelah itu kesenian laesan dari kabupaten Rembang. Dua kesenian rakyat yang dalam sejarahnya sempat hilang itu memikat ratusan penonton yang penuhi area taman di depan SMA 1 Semarang.
Kemudian penari gatoloco memasuki area pertunjukan. Semua penari memakai kostum yang didominasi warna merah. Selain itu, semua wajahnya juga ditutupi topeng dengan berbagai bentuk. Gerakan yang dimainkan oleh para penari tampak sederhana. Setiap gerakan diawali dengan bunyi peluit yang ditiup salah seorang penari. Semua penari adalah laki-laki. Selama sekitar satu jam, para penari gatoloco tersebut menghibur para penonton yang terdiri dari anak-anak hingga orang tua.
Kesenian yang kedua yaitu kelompok dari Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, tampil membawakan kesenian laesan. Kesenian tersebut mirip dengan sintren. Tetapi , seluruh pemainnya adalah laki-laki. Sejak zaman Majapahit yakni pada masa pemerintahan Bhre Lasem yang memimpin Nagari Lasem. Penari di pertunjukan itu disebut laes. Dia akan menari setelah dimasukkan dalam sebuah kurungan. Semula, seorang laes akan dikurung dalam posisi terikat. Namun, beberapa menit kemudian, saat kurungan dibuka, tali-tali yang mengikatnya sudah lepas. Uniknya pada malam itu penonton diberi kesempatan untuk menjadi laes. Penonton yang bersedia akan dibimbing oleh para penari.
Nama               : Tri Purnamasari / 2601411056

KETHOPRAK






Kethoprak yaiku salah sijine jinis pagelaran kang asale saka Jawa. Jroning pagelaran kethoprak, sandiwara kang diselingi tembang-tembang Jawa kanthi iringan gamelan kasuguhake.
Lumrahe, crita kang diangkat jroning pagelaran kethoprak ana maneka warna jinise. Ana sing dijupuk saka crita sujarah Jawa, legenda, utawa saka crita manca nagara. Nanging genahe crita kang dibabar ora bakal njupuk saka wiracarita Ramayana lan Mahabharata. Sebab, pagelarane malih dudu kethoprak nanging dadi wayang wong.
Sawetara taun kapungkur, crita kethoprak akeh dibabar ing TV. Ana sing arupa kethoprak klasik, yaiku pagelaran kethoprak kang dibabar ing panggung kanthi beber kang winates. Sabanjure uga ana kethoprak sayembara, yaiku kethoprak kang dibabar ing TV kanthi beber alam lan swasana ing njaban gedhung. Becike maneh, saben episode, mesthi dipungkasi kanthi sayembara kang nyedhiyani hadhiah mirunggan kanggo milut lan nggeret kawigatene pamirsane.
“Jaman mbiyen kuwi tau disiyarke ing TV, kethoprak sayembara. Kuwi dadi tontonan wajib wong sakkampung. Saliyane critane apik, shooting-e ya neng njaba, ora neng ndhuwur panggung kaya saumume kethoprak. Dadine ora mboseni. Apa maneh ana sayembarane barang,” critane Daryanti, 42, warga Pajang, nalika ditemoni ing daleme, Selasa (14/2).
Ing ngrembakane jaman, uga metu panglipur kang uga ngusung kethoprak. Nanging kethoprak jinis iki akeh dibumboni dhagelan utawa guyonan, mula diarani kethoprak humor. Para paragane uga para dhagelan kondhang ing jagad kasenian.

VARIASI BAHASA JAWA PADA KOMUNITAS SAMIN DI DESA TANDURAN KECAMATAN KEDUNGTUBAN KABUPATEN BLORA



Penggunaan bahasa Jawa pada komunitas Samin
Desa Tanduran, Kabupaten Blora adalah sebuah desa yang sebagian masyarakatnya masih beraliran Samin. Walaupun sebagian penduduknya sudah berpaham Islam dan lebih modern, namun masih banyak dari sebagian masyarakatnya yang berpaham Samin atau Sikep. Bahasa yang dugunakan serta adat istiadat dan budaya masyarakat Samin berbeda dengan masyarakat lainnya. Terutama bahasa yang digunakan.
Pembahasan ini akan mendeskripsikan data-data aktual yang dapat diperoleh dari narasumber dan wawancara terhadap masyarakat Samin.
1.      Bahasa dan pandangan hidup
Pemakaian bahasa Jawa Samin yang mencerminkan hubungan bahasa dengan pandangan hidup misalnya:
a.       Sahadat pengantin: wit jeng nabi, kula lanang damel kula rabi tata jeneng wedok pangaran …..,  kukuh dhemen janji buk nikah mpun kula lakeni.”
       Artinya : sejak nabi yang mulia, saya seorang laki-laki, pekerjaan saya memperistri perempuan, mengatur perikehidupan perempuan yang bernama …... sudah berjanji setia, sudah tidur bersama.”
b.      Ada ajaran: sajrone agama ana rasa, rasa sejati sejatine rasa, rasa sejati awujud banyu.
       Artinya : didalam agama ada rasa, rasa yang memang benar rasa, dan rasa yang berwujud air.
c.       Istilah lain Agama Adam yaitu Agama Lanang. Sembahyang merupakan akronim dari mesem karo grayang-grayang di senthong.

2.      Bahasa dan cara memandang kenyataan
Yang termasuk dalam konsep ini yaitu cara memandang kenyataan terungkap seperti:
a.       sabar yaitu sabar
        trokal yaitu tawakal.
          Contoh pengucapan           : Sabare dieling-eling, trokale dilakoni.
          Artinya                               : Sabarnya diingat-ingat, tawakalnya dilakukan.
b.      Sandhangan yaitu raga atau hidup, salin sandhangan yaitu mati.           

3.      Bahasa dan struktur pemikiran
Berkaitan dengan konsep ini orang Samin menyatakan bahwa.
a.       Tidak mau membayar pajak, dengan alasan lemah-lemahe dhewe kon bayar pajek, tetapi dimintai sumbangan.

4.      Bahasa dan perubahan dalam masyarakat
Konsep ini tercermin pada istilah yang sering disebutkan seperti:
(a)   Nyamin, saminisme yaitu berbuat seperti orang Samin, paham ajaran Samin.
(b)   Pernikahan (kawin Samin, kawin tumpeng, kawin modin/pemerintah)

Variasi  dialek komunitas Samin :

1.             Nayoh
Nayoh adalah salah satu kata yang digunakan kmunitas samin yang tidak dietahui oleh masyarakat awam. Nayoh berarti mudah atau gampang.
Contoh : “Poso nek mok ora mangan ngombe ngono tok ya nayoh”
               “Puasa kalau hanya tidak makan minum gitu  aja ya gampang”

2.        Mbaleg
Variasi bahasa komunitas samin memang beragam. Salah satunya kata mbaleg. Yang berarti pinter atau mahir.
Contoh : “Nek mok ora mangan ae aku ya mbaleg.”
              “Kalau hanya tidak makan saja aku ya mahir.”


3.             Jak’e
Salah satu variasi bahasa yang digunakan oleh masyarakat komunitas samin yaitu jak’e. Kata ini diartikan sebagai kata tolong.
Contoh : “Jak’e lungguhen kana ! “
             “Tolong duduklah disana !”

4.             Thil
Thil adalah kata yang digunakan juga oleh masyarakat komunitas samin. Thil diartikan sebagai ambil.
Contoh : “Jak’e Thil’na rokok kae le !”
              “Tolong ambilkan rokok itu nak !”

5.             Sicok
Penggunaan kata sicok pada komunitas samin ini menjadi ciri khas tersediri. Sicok berarti satu.
Contoh : “Jak’e thil’na rokok sicok le !”
                   Tolong ambilkan rokok satu nak !”

6.             fonetis “Eh”
Contoh     :
mulEh  = mulIh
putEh = putIh

7.             fonetis “Oh”
Contoh     : 
lunggOh          =  lunggUh
rusOh              =  rusUh
                                                                       
8.             enklitik “mu”
Contoh     :
Bapakem         = Bapakmu
Seganem          = segamu

9.             unsur leksikal khas
Contoh         :   adang akeh berarti punya hajat
rukun kula berarti suami/istri
salin sandhangan berarti mati


Variasi penggunaan bahasa Jawa pada Komunitas Samin
Berdasarkan uraian terhadap beberapa aspek kehidupan masyarakat Samin pada pembahasan sebelumnya, terlihat bahwa variasi kebahasaan yang khas dalam masyarakat Samin dilatarbelakangi oleh kondisi sosial (budaya) yang khas pula. Munculnya leksikon-leksikon relik dalam bahasa Jawa Samin membuktikan bahwa masyarakat Samin hanya secara fisik terlihat hidup di tengah-tengah masyarakat Jawa namun sebenarnya terpisah secara sosial-budaya. Kondisi sosial (budaya) yang berupa tindakan, sikap hidup, dan tuturan yang dihasilkan ini hendaknya menjadi perhatian pemerintah daerah dalam menerapkan kebijakan di wilayah tempat tinggal komunitas Samin. Dengan pemahaman semacam ini diharapkan tidak ada lagi kebijakan seperti pemaksaan anak-anak Samin menuntut ilmu di sekolah formal yang mengakibatkan depresi dan rasa malu pada orangtua di komunitas Samin karena merasa gagal mendidik anak.
Bahasa Samin atau Sikep Dalam hubungannya dengan Kepercayaan

1.      Samin : ”Agama iku gaman, Adam pangucape, man gaman lanang.”
  (agama adalah senjata, senjata orang laki-laki) Mengenai definisi agama, komunitas samin mempunyai pandangan berbeda dengan masyarakat Jawa pada umumya. Dalam hal ini orang Samin atau Sikep mengartikan agama bukan sebagai keyakinan atau kepercayaan, tetapi pengertian agama menurut mereka adalah man lanang (penis). Dengan demikian dapat dimengerti jika orang Samin mengatakan bahwa aktivitas sembahyang adalah melakukan hubungan seksual dengan istrinya.
2.      Aktifitas sholat oleh masyarakat Jawa dimaknai sebagai tindakan menghadap Tuhan. Tetapi dimaknai lain oleh suku samin.
sholat solah’é ilat (gerakan lidah).
Berdasarkan ungkapan ini mengacu pada pandangan hidup masyarakat Samin yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Orang Samin berpendapat bahwa manusia yang baik adalah manusia yang bisa menjaga lidahnya dari segala perkataan tidak jujur.
3.      Masyarakat pada komunitas ini tidak menganut satu agama saja, merka menganut semua agama yang ada di Indonesia. Islam, Kisten, Katolik, Hindu, Budha semuanya dianggap benar. Jadi mereka menganut kelima agama tersebut.
Islam               : Slamet
Kristen            : Tresna barang sing tenan
Katolik            : Merga duwe karep
Hindu              : Awit dadine rejo.
Budha                         : lanang wadon gathuk dadi budi
4.      Mereka tidak mengakui bahwa puasa itu dilakukan selama 30 hari. Menurut mereka puasa itu harus selama hidup meeka dengan pedoman “Aja jengris rei dapen kemeren bedhag colong cukil jumput kao sakliya sepadane” menurut mereka puasa tidak hanya dilakukan dengan tidak makan dan minum melainkan dengan tidak iri dengan orang lain, dan tidak megambil barang milik orang lain.


Bahasa Samin atau Sikep Dalam Hubungannya antara manusia dengan manusia Serta Kekerabatan
Percakapan 1.
Orang biasa     : “ Nembe nyapu nggih bu?”
                           (lagi nyapu ya bu?)
Orang Samin   : “ Wis roh lagi nyapu ngono kok takok.”
                           (Sudah tahu lagi nyapu kok nanya.)
Berdasarkan contoh percakapan diatas dapat dilihat bahwa kata-kata dalam bahasa orang Samin atau Sikep menimbulkan kesalahpahaman serta kesalahpengertian bagi orang biasa yang sedang berbicara dengan orang Samin atau Sikep.
Percakapan 2
Orang Biasa    :  “Aku njaluk banyumu!”
(Aku minta airmu)
Orang Samin   : “ Aku ora nduwe banyu, sing nduwe bumi.”
                           (Saya tidak punya air, ini air milik alam.)
            Berdasarkan contoh percakapan diatas, dapat dilihat bahwa masyarakat pada komunitas Samin mempunyai keyakinan bahwa manusia hanya dapat memanfaatkan sumber daya alamnya saja, tetapi tidak dapat memilikinya.
Orang-orang Samin sendiri tidak senang dengan sebutan Samin karena dikonotasikan dengan hal-hal negatif sehingga orang Samin lebih senang menyebut dirinya wong Sikep. Istilah sikep juga dikaitkan dengan kata sikep rabi atau hubungan  seks sebagaimana terlihat dalam”ngepyakké wiji isiné manungsa sing sakbeneré” menebarkan benih yang berisi manusia yang sebenarnya. Ungkapan ini tidak terlepas dari kondisi sosial masyarakat Samin yang lekat dengan dunia pertanian sehingga untuk menyatakan hubungan seks digunakan istilah ”menebarkan benih” sebagaimana lazim terjadi pula didunia pertanian.

Upacara Tedak Siten

Tedak siten

 

Tedak siten kiye salah sijining tradisi masyarakat Jawa sing wis mulai kalah karo tradisi modern. Tedak Siten kuwe asale sekang kata TEDAK sing artine napakna sikil utawa melangkah/mlaku lan SITEN sing asale seka kata siti sing artine lemah. Dadi, tedak siten yakuwe mudun meng tanah utawa lemah.
Selengkape, tradisi iki kanggo bayi sing umure pitung wulan utawa 7 x 35 dina ( 245 ). Jumlah selapan yaiku 35 dina miturut itungan jawa berdasar dina pasaran, yakuwe Kliwon, Legi, Paing, Pon lan Wage. Ing umur 245 dina, si bocah wis mulai napakna sikile nang lemah, kanggo belajar njagong lan belajar mlaku. Ritual kiye nggambarna kesiapane bocah (bayi) kanggo ngadepi penguripane. Biasane kesempatan apik kiye dilaksanakna esuk-esuk, nang lataran umah. Kecuali wong tuane lan keluargane, uga dihadiri nang "wong tua" kanggo ngewei berkat kanggo si bocah. Sajen uga aja klalen disiapna. Kuwe melambangna penjalukan lan donga maring Gusti Allah kanggo nampani berkat lan perlindungan sakang Gusti Allah, nerima berkah sekang nenek-moyang, kanggo memberantas kejahatan sekang tindakan ala menungsa lan semangat.
 
Upacara ritual dilaksanaken kangge lan keselametan. Tedak Siten ugo salah sijine wujud pengarep-arep wong tua kangge anake supoyo si anak mbesuk bakal siap lan sukses nglakoni penguripan ingkang kebak rintangan lan tantangan, kaleh bimbingan wong tuane. Ritual iki sekaligus wujud penghormatan kangge siti (lemah/bumi) sing wis akeh ngewei manfaat kangge umat manusia.
Jaman biyen, tesih akeh masyarakat jawa sing ngelaksanaken ritual iki kanggo anake. Perlengkapan kanggo ritual iki antara lain Jadah (tetel) 7 warna, Jadah yakuwe Panganan sing kegawe saking beras ketan sing dicampur karo parutan klapa nom lan ditambaih uyah ben gurih rasane, warna jadah ana 7 rupa yaiku abang, putih,ireng, kuning, biru, abang enom, lan ungu. Arti 7 warna kuwi yaiku simbol kehidupan sing arep dilewati si bocah, mulai bocah napak sikile pisanan nang bumi nganti si bocah dewasa, Arti liane 7 warna kuwi yaiku gambaran ing kehidupan si bocah sing arep ngadepi okeh pilihan lan rintangan sing kudu di liwati. Jadah 7 warna kuwi disusun mulai warna peteng meuju warna terang, Hal iki nggambarake supaya masalah sing di adepi si bocah mulai seka sing paling abot nganti sing paling enteng, maksute saabot-abote masalah pasti ana jalan keluare.

Sabtu, 28 Juni 2014

Sejarah Wayang Wong

Wayang wong utawi Wayang uwong menika salah satunggalipun jenis teater tradhisional Jawa. Wayang Wong menika gabungan antawisipun seni drama ingkang ngrembaka ing negeri kilen (Eropa) kaliyan seni pagelaran wayang ingkang ngrembaka ing pulo Jawa Lakon wayang ingkang dipungelar menika saking crita-crita wayang purwa. Wayang uwong utaminipun ngrembaka ing kraton lan golongan priyayi utawi bangsawan.
Miturut dinas pariwisata Kotamadya Dati II Surakarta, wayang wong lair ing abad XVIII. Ingkang nyiptakaken inggih menika Mangkunegara I ingkang kadosipun dipunilhami saking seni drama ingkang ngrembaka ing negeri kilén. Wiwitanipun wayang wong dipungelar ing Surakarta, lajeng dipungelar ing Yogyakarta. Wekdal sasi April 1868, nalikanipun Mangkunegara IV ngawontenaken khitanan putranipun ingkang asma Prangwadana lan Mangkunegara V wayang wong dipunsempurnakaken utaminipun bab pakéan lan pirantinipun. Ing taun 1899, Pakubuwana X mbangun taman Sriwedari.Wonten ing peresmianipun ngawontenaken pagelaran kesenian. Salah setunggalipun inggih menika wayang wong.Wiwitanipun wayang wong menika seni tradhisional Jawa ingkang ekslusif, namung dipungelar ing keraton.  Ing taun 1902 wonten wayang wong ingkang ngrembaka urip komersial, kanthi nyadé karcis.Wayang wong komersial ngrembaka lan puncakipun nalika wonten pakempalan "Ngesti Pandowo" ingkang dipunpandegani dening Sastrosabdo. Miturut Winter lan Sastramiruda, wayang wong menika wiwitanipun dipungelar ing abad XVIII (±1760 M.), ingkang dipunpandegani dening Mangkunegara I.  Wekdal menika ingkang dipungelar namung lakon-lakon wayang purwa.Sasampunipun menika pagelaran wayang wong wiwit boten subur, ananging ten Yogyakarta taksih wonten pagelaran wayang wong ngantos taun 1881.Kanthi pambiyantunipun Mangkunegara V, wayang wong ngrembaka malih nanging taksih winates ing Yogyakarta lan Surakarta kemawon Pranyata kesenian wayang wong pikantuk sambutan ingkang saé saking masyarakat, lajeng tuwuh kathah pakempalan wayang wong.Wiwitanipun taksih amatir, dangunipun dados profesional.Pakempalan wayang wong ingkang moncér, kados Wayang Wong Sriwedari saking Surakarta lan Ngesti Pandawa saking Semarang. Wayang wong Sriwedari nggadhahi jasa ingkang ageng, inggih menika ndherék nglestarékaken budaya bangsa, kados seni wayang wong, seni tari, seni busana, lan seni karawitan.
Wiwitanipun ageman para penari wayang wong taksih prasaja kemawon, boten bénten kaliyan ageman adat keraton ingkang dipunagem ing saben dintenipun. Nembé ing jaman Mangkunegara VI (1881-1896), penari wayang wong nganggé irah-irahan ingkang kadamel saking kulit ingkang dipuntatah kanthi saé. 

Senin, 09 Juni 2014

Upacara Siraman Adat Jawa



MAKNA UPACARA SIRAMAN
DALAM PROSESI PERNIKAHAN ADAT JAWA


Upacara siraman pengantin atau memandikan calon pengantin merupakan salah satu tradisi yang terdapat pada upacara perkawinan adat Jawa. Upacara Siraman dilaksanakan sehari sebelum akad nikah. Upacara ini biasanya dilakukan pada sore hari, menjelang pukul 16.00 agar dapat dilanjutkan dengan upacara malam midodareni. Perlengkapan dalam upacara siraman ini, diantaranya, air bersih dari beberapa sumber mata air (tujuh sumber mata air), kembang setaman (bunga kenanga, kantil, melati dan mawar) yang ditaburkan dalam air, sepasang kelapa muda hijau dan alas duduk. Calon pengantin disirami dengan air perwitasari. Perwita berarti suci, sari berarti bunga. Calon pengantin disirami dengan air suci yang menyatu dengan bunga atau kembang. Orang yang memandikan pengantin biasanya adalah orang yang sudah berkeluarga atau orang yang dituakan. Setelah selesai dibersihkan, pengantin diguyur dengan air yang khusus ditempatkan dalam klenting oleh seorang wanita yang paling tua di situ, kemudian klenting tersebut dibanting sampai pecah sambil mengucapkan "wis pecah pamore" , maksudnya calon pengantin sudah cantik..
Dalam perkawinan adat Jawa perlu diadakan siraman karena perkawinan adalah peristiwa yang suci untuk membangun keluarga selama-lamanya. Oleh karena itu, sebelum perkawinan, calon pengantin perlu bersuci. Suci lahiriah dengan siraman air perwitasari. Secara batiniah ketika siraman, calon pengantin menerima doa, restu, dan nasihat para tetua. Upacara siraman antara pengantin pria dan wanita ada yang dilaksanakan terpisah, tetapi ada yang disatukan.
Upacara siraman mempunyai makna yaitu untuk membersihkan jiwa dan raga. Upacara siraman ini biasanya diadakan di siang atau sore hari, sehari sebelum Ijab dan Panggih. Siraman diadakan di rumah orangtua calon pengantin masing-masing. Siraman biasanya dilakukan di taman atau halaman rumah. Yang memandikan tidak hanya orangtua, tetapi juga keluarga dekat dan orang yang dituakan.  Jumlah orang yang melakukan Siraman itu biasanya tujuh orang. Bahasa Jawa tujuh itu PITU, mereka memberi makna PITULUNGAN (berarti menolong). Ada tujuh pitulungan atau penolong, biasanya tujuh orang yang dianggap baik atau penting yang membantu acara ini. Airnya merupakan campuran dari kembang setaman yang disebut Banyu Perwitosari yang jika memungkinkan diambil dari tujuh mata air dan melambangkan kehidupan. Keluarga pengantin perempuan akan mengirim utusan dengan membawa Banyu Perwitosari ke kediaman keluarga pengantin pria dan menuangkannya di dalam rumah pengantin pria.

Yang harus dipersiapkan dalam upacara Siraman:
1.  Baskom untuk air, biasanya terbuat dari tembaga atau perunggu. Airnya dari sumur atau mata air.
2.  Bunga Setaman, meliputi : bunga mawar, bunga melati, bunga magnolia dan bunga kenanga. Kemudian dicampur dengan air yang beraroma lima warna yang berfungsi seperti sabun.
3.  Tradisional shampoo dan conditioner (abu dari merang, santan, air asam Jawa).
4.  Gayung dari 2 kelapa.
5.  Kursi kecil.
6.  Tikar, kain putih dan daun dlingo bengle , bango tulak (kain dengan 4 macam motif) lurik (motif garis dengan potongan Yuyu Sekandang dan Pula Watu).
7.  Memakai kain putih selama Siraman.
8.  Kain batik dari Grompol dan potongan Nagasari.
9.  Handuk.
10.  Kendi.
11.  Sesaji
Sesajian merupakan hal yang dianggap penting dalam upacara Jawa. Sesajian untuk siraman terdiri dari berbagai macam sajian:
  • Tumpeng Robyong, nasi kuning dengan hiasan-hiasan.
  • Tumpeng Gundhul, nasi kuning tanpa hiasan.
  • Makanan seperti ayam, tahu, telur.
  • Buah-buahan seperti pisang dan lain-lain.
  • Kelapan muda.
  • Tujuh macam bubur.
  • Jajanan seperti kue manis, lemper, cendol.
  • Seekor ayam jago
  • Lampu lentera
  • Kembang Telon - tiga macam bunga (kenanga, melati, cempaka).
Keluarga dari calon pengantin wanita mengirim utusan untuk membawa air bunga ke keluarga dari calon pengantin laki-laki. Itu Banyu Suci Perwitosari, berarti air suci dan simbol dari intisari kehidupan. Air ini diletakan di rumah calon pengantin laki-laki.

Pelaksanaan Siraman
Calon Pengantin perempuan/laki-laki datang dari kamarnya dan bergabung dengan orangtuanya. Dia diantar ke tempat Siraman. Beberapa orang jalan di belakangnya dan membawa baki dengan kain batik, handuk, dan lain-lain. Dan ini akan digunakan setelah Siraman. Dia mendudukkan di kursi dan berdoa. Orang pertama yang menyiramkan air ke calon pengantin adalah ayah. Ibu boleh menyiramkan setalah ayah. Setelah mereka, orang lain boleh melakukan Siraman. Orang terakhir yang melakukan Siraman adalah Pemaes atau orang sepesial yang telah ditunjuk. Calon Pengantin perempuan/laki-laki duduk dengan kedua tangan di atas dada dengan posisi berdoa. Mereka menyiramkan air ke tangannya dan membersihkan mulutnya tiga kali. Kemudian mereka menyiramkan air ke atas kepala, wajah, telinga, leher, tangan dan kaki juga sebanyak tiga kali. Pemaes menggunakan tradisionil shampoo dan conditioner. Setelah Kendi itu kosong, Pemaes atau biasanya kedua orang tua calon pengantin kemudian memecahkan kendi ke lantai sambil berkata berkata: 'Wis Pecah Pamore' - berarti dia itu tampan (menjadi cantik dan siap untuk menikah).
  Makna Ritual yang terdapat pada Upacara adat Siraman
1.            Pecah Kendi
Kendi yang digunakan untuk siraman diambil. Ibu pengantin perempuan atau Pameas(untuk siraman pengantin pria) atau orang yang terakhir akan memecahkan kendi dan mengatakan: " Wis Pecah Pamore" - artinya sekarang sang pengantin sudah siap untuk menikah.
2.            Pangkas Rikmo lan Tanam Rikmo
Acara memotong sedikit rambut pengantin perempuan dan potongan rambut tersebut ditanam di rumah belakang.
3.            Upacara Ngerik
Setelah Siraman, pengantin duduk di kamar pengantin. Pemaes mengeringkan rambutnya dengan handuk dan menberi pewangi (ratus) di seluruh rambutnya. Dia mengikat rambut ke belakang dan mengeraskannya (gelung). Setelah itu Pemaes membersihkan wajahnya dan lehernya, dia siap untuk di dandani. Pemaes sangat behati-hati dalam merias pengantin. Dandanan itu tergantun dari bentuk perkawinan. Akhirnya, pengantin wanita memakai kebaya dan kain batik dengan motif Sidomukti atau Sidoasih. Itu adalah simbol dari kemakmuran hidup.
3.            Gendongan
Kedua orangtua pengantin perempuan menggendong anak mereka yang melambangkan ngentaske artinya mengentaskan seorang anak
4.            Dodol Dhawet
Kedua orangtua pengantin wanita berjualan minuman dawet yaitu minuman manis khas Solo, tujuannya agar banyak tamu yang datang.
5.            Temu Panggih
Penyerahan pisang sanggan berupa gedung ayu suruh ayu sebagai tebusan atau syarat untuk pengantin perempuan. Sebagai tanda agar kehidupan mendatang menjadi orang berguna dan tak kurang suatu apapun. Sebagai tanda melepaskan anak dengan penuh ikhlas.
6.            Acara tukar menukar kembang mayang diawali tukar menukar manuk cengkir gading, sebagai simbol agar kedua pengantin menjadi pasangan yang berguna bagi keluarga dan masyarakat.